Selasa, 11 Februari 2014

*Di Paruh Waktu (Senyum Dari Nagoya)*

Kita berjumpa di ambang pagi. Bersua di depan gedung kampus itu,
Di bulan september, Udara yang semi-semi dingin di pagi itu.
Dengan suasana pagi yang buram, menggugah gairah untuk mengajak mu bercerita, namun aku masih kaku, mungkin dinginnya pagi membuat aku membeku, kau punberlalu dengan kaca dimata mu.

Kini setahun telah berlalu, september itu telah berlalu, aku masih ingat disaat pertama aku kerumah mu, Yah Pohon jambu itu, kau hanya bilang disitu lah alamat rumah mu.

Kegembiraan yang tidak pernah terlupa, kau membuka pintu depan rumah mu, aku terkejut gembira melihat kau malam itu, sangat bersahaja dan senyum manis mu membekas selalu. Kau seduhkan aku secangkir Teh penghangat tubuhku dimalam itu.

Kitapun duduk di kursi itu, saling lontar cerita, bercerita seakan-akan kita telah lama ber-sua. Ya! aku pikir aku telah lama mengenal mu, walaupun saat itu belum tahu nama mu, aku masih ingat Wajah manis mu dikala pulang sekolah di SMA. , pakaian putih abu-abu mu, kau sangat lucu, itulah sekian alasan dari ratusan alasan kenapa aku Memilih mu.

Malam itu semakin larut, aku masih ingat kita masih tetap bercerita tentang dunia, dari sudut pandang kita yang berbeda, aku seperti ini, kau seperti itu, bibir indah mu sangat ringan melontarkan cerita tentang mu namun itu bukan satu hal yang harus jadi masalah, semua bisa bersatu dalam perbedaan.

Dan Malampun semakin larut Teh itupun telah habis aku serumput, waktunya aku untuk berpamitan pulang, Aku masih ingat bagaimana cara mu mengenalkan aku pada orang tua mu, aku lihat kau sedikit malu.

Hari-hari itu telah berlalu, aku sadar semakin sulit langkah ku untuk kembali duduk di kursi di dalam rumah mu itu.

Aku Berharap Waktu Kembali Berputar Untuk Beberapa Saat Saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar